Riekha

Materi Abnormal

Posted on: 27/03/2011

Riekha Aprilia.Psi

Unsur kata dari gangguan somatoform berasal dari bahasa Yunani yaitu soma yang artinya tubuh dimana pada gangguan ini yang paling jelas terlihat adalah gangguan dan gejala pada kondisi fisik yang mengarah pada suatu kondisi medis tertentu, walaupun didalam pemeriksaan gejala dan kondisi fisik ini tidak dapat diketahui atau dijelaskan sepenuhnya seperti kita mengetahui gangguan medis lainnya. Gejala-gejala dari gangguan somatoform ini cukup parah untuk dapat menyebabkan penderitaan ‘distrees’ dan gangguan fungsional pada pasien.
Didalam DSM-IV-TR dikenal 5 gangguan somatoform yang spesifik : gangguan somatisasi, gangguan konversi, hipokondriasis, gangguan tubuh dismorfik, dan gangguan nyeri. Dua kategori diagnostik residual dalam DSM-IV-TR adalah : gangguan somatoform yang tidak dapat dideferensiasi dan gangguan somatoform yang tidak spesifik.
1.Epidemiologi
a. Lifetime prevalensi pada populasi umum adalah 0,1-0,5%
b. Wanita lebih daripada pria dengan ratio 5:1.
c. Lifetime prevalensi pada semua wanita adalah 1-2%.
d. Lebih sering terjadi pada orang yang berpendidikan rendah dan orang yang memiliki status sosial ekonomi yang rendah.
e. Onset awal biasanya terjadi pada dewasa dan dewasa muda.
2.Etiologi
a. Psikososial-supresi atau represi atas rasa marah terhadap orang lain, maupun rasa marah terhadap diri sendiri, dapat menjadi salah satu penyebab dari gangguan ini. Kurangnya rasa menghargai diri sendiri juga dapat menjadi salah satu penyebab gangguan ini. Orang tua yang memiliki gangguan ini juga dapat mempengaruhi sebab terjadinya gangguan pada pasien. Beberapa diantaranya memiliki sebab yang sama seperti sebab pada depresi.
b. Genetik-Riwayat dari keluarga yang positif mengalami gangguan ini : Saat ini 10-20% yang terkena adalah ibu dan anak perempuan; pada kembar-indeks rata-rata adalah 29% pada kembar monozigot dan 10% pada kembar dizigot.
3.Test laboratorium dan test psikologi.
Pada beberapa pasien terdapat ketidaknormalan pada neuropsikologi minor
( contoh : salah menilai terhadap input somatosensoris).
4.Patofisiologi.
Penggunaaan obat jangka panjang dapat menyebabkan efek yang merugikan yang tidak bersangkutan dengan keluhan pada gangguan somatisasi.Beberapa data menerangkan atau mengindikasikan bahwa regulasi sitokin yang tidak normal berpengaruh terhadap gangguan ini.
5.Diagnosa, tanda dan gejala.
a. Banyaknya keluhan somatik dengan riwayat pengobatan yang rumit.
b. Keluhan yang paling sering adalahnyeri, gejala-gejala gastrointestinal, gangguan seksual, dan tanda-tanda gangguan neurology ( contoh : pusing, amnesia ).
c. Adanya pemikiran untuk bunuh diri yang seringkali muncul, tetapi untuk sampai melakukannya jarang.
d. Keluhan depresi dan anxietas biasanya muncul: masalah terhadap hubungan perseorangan sering terjadi.Lihat tabel 12-2.
6.Diferensial diagnosa.
a. Multiple sclerosis : kelemahan pada semua otot-otot tubuh.
b. Sindrom kelelahan kronik : dapat disebabkan oleh virus Epstein-Barr.
c. Porphyria : nyeri abdomen, urine yang berwarna merah.
d. Schizofrenia : gangguan pikiran, halusinasi. Waham yang bersifat somatic dapat juga terjadi.
e. Serangan panic : intermitten, episodic. Gejala dapat berupa anxietas dan panic.
f. Gangguan konversi : Gejala-gejala yang sedikit dengan arti simbolis yang nyata.
g. Gangguan factitial : Gejala yang secara tidak sadar diinginkan oleh pasien: biasanya ingin berada sirumah sakit.
h. Gangguan nyeri : nyeri biasanya merupakan satu-satunya keluhan.
7.Prognosis dan perjalanan penyakit.
Perjalanan penyakit yang sudah kronik dengan minimnya remisi: walaupun, beratnya keluhan dapat berubah-ubah. Komplikasi menyangkut tidak perlunya operasi, pengobatan yang berulang, ketergantungan terhadap zat-zat kimia, dan efek yang merugikan dari resep obat yang tidak perlu. Sering terjadi depresi.
8.Terapi
a. Farmakologi : menhindari psikotropika, terkecuali selama periode terjadinya gangguan anxietas dan depresi, karena pasien biasanya menjadi tergantung secara psikologik. Antidepresan berguna pada sekunder depresi.
b. Psikologika : Pengertian serta dukungan terapi psikologi yang terus-menerus sangat diperlukan untuk mendukung pemahaman tentang perubahan –perubahan yang akan terjadi, dukungan untuk melewati hidup yang sulit.

Hidup Sehat Tanpa Mengeluh

By: M. Agus Syafii

Pernah ada seorang ibu muda bersama suaminya yang sempat berbincang bersama saya
di Rumah Amalia. Ibu muda itu mengatakan sudah lama tidak bisa tidur. C
nnnnnnnnnnnmemas, gelisah dan bingung karena tidak bisa tidur, ‘setiap malam
saya berusaha tidur namun saya tetap tidak bisa tidur, saya gelisah, bangun,
tidur lagi. Saya suka marah melihat suami yang tertidur pulas sementara saya
tidak bisa tidur.’ Sampai oleh dokter dia dikasih obat penenang agar bisa tidur.
‘Rasanya saya tidak bisa tidur tanpa obat itu, padahal saya pengen melepaskan
diri dari ketergantungan obat tidur itu.’ tutur ibu muda itu dengan wajah kusut,
muka terlihat cemas dan tegang dengan didampingi suami penuh kesetiaan
mendengarkan istrinya bercerita.

Hampir setiap hari saya mendengar keluhan, setiap hari selalu ada orang yang
mengeluh seolah tiada hari tanpa mengeluh bahkan ada yang memiliki kebiasaan
berganti-ganti dokter  dan semua dokter jawabannya sama, ‘anda tidak ada
kelainan, anda hanya banyak pikiran.’  karena berdasarkan hasil laboratorium
menunjukkan semuanya normal sehingga dengan keluhan tiada habisnya membuat
dirinya benar-benar sakit bahkan seluruh keluarganya ikut sakit, tanpa disadari
oleh dirinya telah menyebarkan kebiasaan mengeluh sakit sehingga anaknya juga
mengeluh dengan keadaan yang sama, merasa dirinya sakit.

Gangguan ini biasanya disebut dengan gangguan ‘Somatoform’ atau yang dikenal
dengan ‘psikosomatis.’ Kalo tidak ditangani dengan baik maka penderita akan
cemas, takut, tidak mampu dan hidupnya tidak berfungsi dengan baik, karena
merasa selalu sakit, dikantor tidak banyak yang bisa ia perbuat, sering tidak
masuk kantor, tidak tahu sakitnya apa karena tidak ada dokter yang bisa
menyakinkan dirinya akan sakit yang dideritanya. Apakah hal ini merugikan?
Tentunya saja hal ini merugikan selain merugikan diri sendiri, merugikan
keluarga, tempatnya bekerja bahkan kecemasan dan ketakutannya menyebar kepada
orang2 disekelilingnya dan masyarakat luas.

Lantas bagaimana untuk mengatasi bila anda mengalami hal seperti ini? Pertama,
Berhentilah mengeluh. Bila anda mengalami peristiwa pada masa lalu yang membuat
anda sakit hati, kecewa dan marah, biarkanlah itu berlalu. Upayakan untuk
berhenti mengeluh kepada siapapun. Walaupun ada dorongan atau desakan ingin
mengeluh bertahanlah, kalo bisa bertahan untuk tidak mengeluh itu berarti
gangguan psikosomatis sudah dari setengahnya menurun. Kedua, Sebagai gantinya
mengeluh gunakanlah berdzikir kepada Allah, untuk mengkonsentrasikan pikiran &
curhatnya kepada Allah maka hati dan pikiran mampu dibersihkan dari segala
kegelisahan, kecemasan dan kesedihan. Ketiga, berkumpullah dengan orang-orang
yang berpikir positif sehingga anda mampu dipengaruhi oleh pikiran-pikiran yang
positif dengan demikian anda mampu hidup sehat tanpa mengeluh.

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat ALlah hati menjadi tenteram.’ (QS.
ar-Raad : 28).

Wassalam,
Riekha Aprilia .Psi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Listiana Advokat: Terima kasih sudah hadir di blog saya, dan terima kasih juga karena ternyata tulisan saya mendapat respon yang baik dari anda. Semoga bermanfaat ya...
  • rikh4: Masax ia ???kwkww
  • Badual: kerenlah kalu begitu!!

Kategori

%d blogger menyukai ini: